Masjid Al Ikhlas Satelit Sumenep

Pertumbuhan masjid dalam arsitektur di Indonesia sejalan dengan perkembangan ajaran Islam yang masuk dalam kehidupan masyarakat di Indonesia. Bentuk tradisi daerah yang pada saat Islam masuk berbaur dengan unsur Hindu, kemudian menjadi wujud–wujud arsitektur masjid di Indonesia. Berbagai kebiasaan yang melengkapi bangunan tradisional daerah, juga menjadi kelengkapan dari masjid – semisal bahan bangunan lokal, atap khas daerah serta faktor posisi yang ada dalam kehidupan daerah.

Sejumlah masjid yang dibangun di berbagai daerah senantiasa menonjolkan unsur–unsur daerah dengan nilai–nilai tradisionalnya. Oleh karena keterikatannya dengan budaya lokal tradisional sangat kuat, masjid dapat bertahan dalam kurun waktu yang lama, karena itu pada awal perkembangan Islam di Indonesia, masjid tampil sebagai bangunan yang bercorak tradisional daerah. Sebutlaah seperti arsitektur Masjid Agung Demak, wujud arsitekturalnya merupakan pengembangan bentuk pendopo. Demikian pula masjid Menara Kudus adalah wujud akulturasi Islam dengan Hindu yang gerbangnya bercorak bangunan Majapahit.

Universal

Setelah Negara Kesatuan Republik Indonesia berdiri, banyak masjid didirikan dengan konsep pemikiran yang sangat memperhatikan fungsi praktis. Karena itulah kemudian masjid tampil dengan arsitektur yang bervariasi, terutama dalam corak rancangan kubahnya. Hal ini dapat dilihat salah satunya adalah wujud arsitektural masjid Al Ikhlas Satelit Sumenep yang memiliki wujud arsitektural berani tampil melepaskan diri dari unsur–unsur gaya yang memberikan ciri khusus pada masjid–masjid sebelumnya seperti pengunaan kubah.

Masjid Al Ikhlas Satelit Sumenep mulai direnovasi pada tahun 2005. Dasar pemikiran ‘vertikal-horisontal’ pada Masjid Al Ikhlas Satelit Sumenep ditampilkan secara tegas melalui kolom-kolom beton yang memikul atap beton, serta diimbangi dengan penerapan unsur dekoratif dinding secara horisontal. Wujud Masjid Al Ikhlas Satelit Sumenep ini merupakan gambaran dari perwujudan fungsi masjid yang memiliki kegunaan untuk segala kegiatan, baik berupaya kegiatan keagamaan maupun kegiatan umat secara umum, yang tercemin dari pengorganisasian ruangnya. Jadi pada hakikatnya, kesederhanaan bentuk Masjid Al Ikhlas Satelit Sumenep mengandung makna universal yang menyiratkan makna hubungan vertikal manusia dengan Tuhan dan hubungan horisontal manusia dengan sesamanya, yang terdapat pada semua agama di dunia.

Pada hakikatnya kesederhanaan wujud arsitektural masjid telah muncul sejak masjid di bangun pertama kalinya oleh Nabi Muhamad SAW. Masjid yang dibangun pertama kali oleh Nabi Muhammad SAW justru sangant sederhana. Prototipe masjid beliau adalah ‘masjid lapangan’, sebab unsur utamanya adalah lapangan di bagian tengah denah dan dikelilingi tembok pembatas. Konsep ini juga merupakan kebiasaan adat lama Arab yang memanfaatkan bentuk lapangan terbuka di antara dinding–dinding pembatas, untuk menampung aktivitas pertemuan dan aktivitas kehidupan lainnya. Jadi, intuisi manusiawi Nabi Muhammad didasari atau prinsip mendirikan sesuatu di atas tanah, dengan tujuan untuk memberi tempat dan melayani kebutuhan masyarakat yang terjadi secara spontan pada saat itu. Dengan demikian, bentuk arsitektur masjid pada mulanya bukanlah merupakan bangunan yang megah, penuh keindahan dengan ciri–ciri keagungan arsitektur pada penampilan fisiknya , tetapi justru sangat sederhana dan fungsional.

Iklan

About this entry