Menggali Potensi Terpendam

Sebuah pepatah mengatakan, “Apa yang membedakan diri anda sekarang dengan lima atau sepuluh tahun mendatang adalah dengan siapa anda bergaul dan buku-buku apa yang anda baca”. Susunan kata-kata yang terbalut indah tersebut selalu terngiang di pikiran saya. Iya, dengan siapa saya bergaul dan buku apa yang saya baca merupakan bagian dari sekolah kehidupan. Semakin banyak saya bergaul dengan orang-orang terbaik dan semakin banyak saya membaca buku, yang merupakan kumpulan pengalaman seseorang, maka semakin luas pula pengetahuan dan wawasan saya.

Hal di atas lah yang terus mengusik dan menggoda saya untuk secara konsisten terus mengembangkan diri, dimana salah satunya sudah saya tempuh bersama temen-temen seprofesi di tempat kerja saya terdahulu. Banyak pengetahuan baru yang dapat saya ambil.

Arsitektur tidak hanya melulu ruang dan hadir dalam keindahan bentuk, tetapi juga proses. Banyak arsitek ternama menghasilkan karya yang bisa dibilang terlihat biasa saja, tetapi ternyata diberikan apresiasi tinggi, karena prosesnya. Yang terpenting bukanlah B yang berasal dari A, tetapi area diantara A dan B. “Perjalanan” A menjadi B. Mengapa mereka terlihat dengan mudah menemukan metode tersebut? Karena mereka memiliki kepercayaan (belief).

Bentuk-bentuk yang dihasilkan memiliki suatu kedekatan atau kekerabatan dengan bentuk yang lain. Seperti sistem klasifikasi kekerabatan pada dunia biologi. Apa yang kemudian kita sebut dengan PHYLOGENESIS. Kepercayaan tersebut yang menuntun kita untuk meneliti dan menemukan apa yang mereka yakini.

Pada dasarnya kita mencoba mencari parameter yang nantinya bisa kita pakai dalam menentukan hubungan kekerabatan kita. Meski dalam hal ini saya belum mengerti benar alasan dalam mengemukakan faciality, function, balance, continuity, dan lainnya. Meski banyak pertanyaan disekitar metode ini, seperti apakah bisa dipakai untuk semua bentuk bangunan dan semua arsitek, mengapa beranjak dari hubungan kekerabatan, dan pertanyaan lainnya, namun yang perlu digaris bawahi adalah proses penemuan metode tersebut, Sikap dan mental kita.

Walaupun kita menyadari betul metode yang kita ciptakan akan menuai banyak protes, pertanyaan, dan sikap skeptis dari berbagai pihak, toh kita akan tetap menjalaninya. Entah apakah memang memiliki banyak waktu atau memang suatu tanggung jawab yang harus dilakukan, namun saya jadi berpikir bahwa bukankah seharusnya kita bersikap demikian. Mempertahankan dan membuktikan apa yang kita yakini, sehingga nantinya mahakarya tersebut tidak hanya sekedar berlabel “Iya bangunannya bagus.” tetapi juga “ wow ternyata …” ada sesuatu yang bisa dibawa siapa saja kedalam pengetahuan kita. Hasrat seperti ini sulit ditemukan, tidak hanya di dalam diri saya, namun hingga arsitek parktisi di negeri ini.

Jadi, arsitektur tidak hanya berbicara hasil akhir, tetapi juga proses.

Iklan

About this entry