Hubungan Kosmologis Keraton, Alun-Alun dan Masjid sebagai Elemen Pembentuk Ruang Publik

Pusat Kota Sumenep yang diwakili dengan keberadaan kawasan alun-alun mempunyai nilai historis dan kultural sebagai pembentuk identitas Kota Sumenep. Peran kawasan ini sebagai identitas Kota Sumenep sangat penting. Selain berperan sebagai landmark, bangunan-bangunan dan lingkungan yang terdapat di sekitarnya berperan sebagai elemen pembentuk ruang kota dan menggambarkan sejarah kota di masa lampau.

Sejalan dengan perkembangan kota, perkembangan arsitektur Kota Sumenep termasuk bangunan di dalamnya banyak dipengaruhi oleh pemerintahan yang ada pada saat itu yaitu pengaruh Kerajaan Jawa Hindu pada Pemerintahan Majapahit, pengaruh Kerajaan Jawa Islam, pengaruh Kolonial Belanda dan pengaruh Imigran Cina (Srilestari, 2004). Kondisi beberapa bangunan kuno peninggalan sejarah yang berada di kota lama ada sebagian yang mulai berubah dan nyaris mengalami keruntuhan akibat dimakan usia sehingga sudah tidak dikenali lagi wujud aslinya, termasuk juga kawasan alun-alun yang dulunya merupakan lapangan luas terbuka tempat berkumpulnya pasukan kerajaan dan tempat untuk berolahraga sekarang berubah menjadi Taman Adipura Sumenep yang difungsikan sebagai ruang publik kota.

1b

Sebagai kawasan yang berada di pusat kota, karakteristik pada kawasan ini beragam. Dahulu kawasan ini merupakan kawasan penting bagi perkembangan pemerintahan Kota Sumenep sebagai pusat pemerintahan kota dengan tata ruang kota yang mirip dengan tata ruang kota Jawa. Prinsip pembangunan Kota Sumenep mengikuti pola kota–kota di Pulau Jawa yang ditandai dengan adanya alun–alun sebagai pusat kota dan dikelilingi oleh Keraton Sumenep di sebelah timur menghadap selatan, pasar di sebelah utara, Masjid Jamik di sebelah barat dan tangsi prajurit keraton di sebelah selatan. Tata lokasi tersebut mempunyai konsep yang jelas berdasarkan ajaran Islam yaitu ”Hablum Minallah Wa Hablum Minannas” yang artinya berhubungan dengan Allah dan berhubungan dengan manusia seperti yang terlihat pada gambar dibawah ini (Wiryoprawiro, 1986).

2b

Keraton, alun-alun dan masjid menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam penataannya. Bahkan bangunan-bangunan yang lain seperti pasar yang berada di sebelah utara alun-alun dan tangsi prajurit keraton di sebelah selatan alun-alun juga merupakan bagian penting pada masa itu. Namun saat ini, wujud fisik kota Sumenep ini mulai mengarah pada alih fungsi pemanfaatan ruang kota menjadi kegiatan perdagangan dan jasa komersial terutama pada kawasan utara alun-alun serta perkantoran pemerintahan. Perkembangan tersebut merubah secara struktural kondisi kawasan kota lama. Keberadaan kegiatan komersial di kawasan kota lama tidak kontekstual dengan eksistensi kawasan bersejarah yang harus dipertahankan karena akan mengalihkan fokus keberadaan bangunan-bangunan bersejarah yang dilindungi oleh Peraturan Daerah.

3

Perkembangan Kota Sumenep dalam menata ruang dan pembangunan kotanya sudah mengacu pada Peraturan Daerah Kabupaten Sumenep No. 12 Tahun 2013 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Sumenep Tahun 2013 – 2033. Di dalam dokumen tersebut, sudah tertera dengan jelas mengenai rencana pengembangan untuk seluruh kawasan kota, termasuk rencana terhadap kawasan cagar budaya. Dalam perkembangannya upaya tersebut kurang berjalan dengan optimal, karena tidak sepenuhnya dilaksanakan. Arahan-arahan dari rencana tata ruang yang telah ada sepenuhnya masih bersifat makro/umum, dua dimensional dan belum mampu menyentuh hal-hal teknis yang bersifat kualitatif, serta dalam penerapannya sulit untuk dilaksanakan maupun dipakai sebagai pedoman dalam merevitalisasi kawasan.

tb

Status ruang publik yang diberlakukan terhadap Taman Adipura Sumenep menjadi bias seiring membludaknya aktifitas pedagang informal yang menyita sebagian besar konsentrasi pengunjung. Meskipun mampu menghidupkan kawasan, perlu diwaspadai perkembangannya.  Hal ini dikarenakan okupansi ruang publik untuk aktivitas berdagang yang dilakukan secara terus menerus (rutin) akan sulit dilakukan kegiatan pengaturan.  Aktivitas ini cenderung bertambah baik aktivitas, intensitas penggunaan maupun pelakunya.  Untuk menghindari hal tersebut, dilakukan shift kegiatan dengan rotasi mingguan.  Sehingga siapapun dapat memanfaatkan ruang publik dengan nyaman dan aman. Selain itu pemindahan sebagian aktifitas pedagang informal juga perlu dilakukan.

Ruang publik merupakan ruang yang mudah dijangkau oleh siapa saja, sehingga untuk meminimalisir okupansi ruang publik untuk kegiatan perdagangan maka perlu lokasi khusus yang didekat ruang publik, diperuntukan fungsi ekonomi secara temporer.  Upaya ini merupakan cara mengakomodasikan pemanfaatan ekonomi pada ruang publik tanpa mengurangi esensi sebagai ruang  publik.

001. ALUN

Bagi Kota Sumenep, Revitalisasi terhadap keberadaan Taman Adipura Sumenep menjadi kunci penting mengembalikan fungsi ruang publik yang mempunyai nilai historis dan kultural. Sampai saat ini perbaikan ruang terbuka terus dilakukan walaupun terkadang masih bersifat parsial. Langkah selanjutnya adalah memberikan ruang sosial yang baik bagi pengunjung, warga sekitar maupun orang yang bekerja disekitar kawasan Taman Adipura Sumenep dengan menyediakan ruang kehidupan.  Dimana kehidupan sosial pada ruang publik akan mampu meningkatkan kualitas hidup baik secara individu maupun secara komuniti.

Iklan

About this entry